Kalau kita buka lembaran uang seribuan, ada gambar Kapitan Pattimura di depan, pahlawan nasional asal Ambon. Di belakangnya, tergambar dua gunung. Tepatnya dua pulau bergunung. Yang di bagian depan Pulau Maitara, belakangnya Pulau Tidore.
Gambar ini, kalau saya lacak, diambil dari sebuah tanjung, tak jauh dari Restoran Florida di Pulau Ternate. Saya sempat mengambil fotonya. Sayang beberapa kali pemotretan, gunung di Pulau Tidore kerap berawan. Jadinya tak sesempurna dalam gambar uang kertas seribuan.
Hari itu saya kembali mengunjungi Tidore. Rencananya mau ron gunung lewat utara. Begitu mendarat di Dermaga Rum, saya tertarik melihat Pulau Maitara yang cerah dan hijau. Maitara selama ini menjadi target turis asing yang singgah sejenak di Ternate. Selain pantainya bersih, berpasir putih, keindahan karangnya terjaga baik. Banyak turis yang memanfaatkannya untuk diving dan snorkeling.
Iseng saya tanya bagaimana menuju Maitara kepada seorang lelaki di depan saya. Dorang langsung menjawab, “Nah.. itu dia perahunya. Ci langsung naik saja. Walau cuma satu dua penumpang, perahu langsung jalan,” katanya. Saya pun langsung naik ke atap perahu motor kayu itu.
Sang kemudi, Ardi Fotunga, menawari saya keliling pulau Maitara. Kebetulan saat itu tak ada penumpang lain. Setelah berpikir sejenak, saya setuju. Kapan lagi kelilin Maitara. Saya yakin seyakin-yakinnya, tak banyak orang Maluku Utara, baik Ternate maupun Tidore, yang pernah mengelilingi Maitara. Orang asli Maitara pun belum tentu mau mengelilingi pulaunya. Mereka lebih tertarik pesiar ke Ternate.
Perlahan Ardi membawa perahunya mengelilingi pulau, berlawanan arah dengan jarum jam. Sambil motret, saya banyak bertanya. Ardi pun mengisahkan pulau kelahirannya dengan bangga, khas orang Maitara.
Bagi orang Ternate, Maitara merupakan pulau penghasil kerajinan gerabah dapur, seperti cobek dan uleg-uleg. Selain itu, tanah Maitara dipenuhi pohon kelapa, pala, dan cengkeh. Ada juga sih pohon kenari, tapi cuma satu dua pohon. Kenari lebih dikenal di Makian dan Bacan. Kacang kaya lemak ini menjadi pengganti kemiri sebagai bumbu masak, dan bahan campuran aneka kue, selai, minuman, atau roti khas Maluku Utara.
Di masa lalu Maitara dikenal sebagai pulau perantara, baik armada dan pedagang yang hendak ke Kerajaan Ternate atau Tidore akan menyempatkan singgah di pulau ini sebelum yakin diterima oleh sultan di kedua pulau itu. Hanya butuh tiga sampai lima menit menyeberang dengan perahu bermotor dari Tidore ke Maitara.
Pulau hijau ini dihuni sekitar 1000 jiwa, perkampungan mereka menghadap ke arah Tidore. Sedang bagian yang menghadap ke Ternate berupa hutan lebat dan kebun saja. “Ada empat dusun dan dua kepala desa di Maitara. Kalau sekolah baru tk sampai SMP,” terang Ardi.
Menurut Ardi, mayoritas penduduk pulaunya bekerja sebagai nelayan. Hanya sebagian kecil yang bertani kelapa atau cengkeh. Sebetulnya, seperti umumnya penduduk pulau-pulau lain, para nelayan ini memiliki kebun kelapa atau cengkeh juga. Mereka tak menghabiskan semua waktunya untuk sebuah pekerjaan, tapi saling mengisi dan melengkapi.
Dibanding tetangganya Ternate dan Tidore, Maitara kurang mendapat prioritas. Jalan beraspal misalnya, hanya menghubungkan kampung di depan Pulau Tidore, tak sampai merambah bagian belakang pulau. Angkot jelas tak ada. Alat transportasi darat hanya ojek, sedang hubungan laut lewat perahu motor atau ketinting ke arah Rum, Tidore. Jika penduduk hendak menuju Ternate misalnya, harus ke Tidore lebih dulu.
Lebih satu jam Ardi membawa saya berkeliling dengan perahunya. Melalui rumah-rumah sederhana, pemukiman penduduk, masjid, dermaga. Juga lewat tempat wisata snorkeling dan menyelam yang hanya diminati turis mancanegara. Lalu menyusur deretan panjang hutan bakau. Semoga tak ada buayanya, doa saya. Terakhir kami melalui barisan kapal-kapal kayu, sebelum akhirnya menuju Rum kembali.
Saking asyiknya menikmati panorama di sekeliling, tak hirau lagi saya akan sengatan mentari. Kulit saya sudah kelam, terlalu sering terbakar mentari khatulistiwa. Apa boleh buat, demi mengejar keindahan dan memuaskan rasa ingin tahu, saya mesti rela. Apalagi keindahan kali ini nilainya seratus kali di gambar uang seribu. Mahal memang !
***
*
Ary Hana berkisah.
Saya punya basecamp di surabaya, rumah ibu. kerja saya keluyuran, jalan-jalan keliling indonesia sambil meneliti untuk yayasan saya, ‘through the glass art foundation’. dulu saya pernah bekerja di jawa pos sebagai wartawan, lalu di majalah femina, dan beberapa media. lalu saya nguli di timor leste dan penang, malaysia sebagai tki sambil kuliah. saya lulusan teknik ugm, namun lebih suka belajar tentang sejarah dan budaya. blog saya di : http://ary-amhir.blogspot.com (berisi hitam putih kehidupan tki), yang lain tidak terlalu aktif. kebetulan kali ini saya sedang keliling maluku utara.











Nusantara memang tidak tertandingi. Begitupun dengan Ternate dan Tidore. Selama ini jika sesorang menyebut kata Ternate dan Tidore, maka pikiran saya pasti akan tertuju sebagai daerah penghasil rempah2. Ternyata lebih dari sekedar penghasil rempah2, Ternate dan Tidore juga kaya akan keindahan alamnya. Dan foto2 diatas telah membuktikannya. Saya pun bisa menyimpulkan bahwa Ternate dan Tidore sangat kuat dengan pesona alamnya, terutama laut. Tinggal sekarang bagaimana pemda setempat mengeksplorasi keindahan laut yang indah tsb
benar mas, promosi harus gencar juga ya
jadi teringat selama setahun kemarin tinggal di Ternate selama 1 th 3 bl…^^
merasakan tinggal di kaki gn gamalama dan dikelilingi lautan…
eksotikkk…^^
salam kenal eyank..
wah,pernah tinggal di ternate segala ya
kayaknya asyik ya, belum terlalu hiruk pikuk kayak di kota besar
salam hangat selalu
Kisah Pulau di Uang Seribu | Plesiran…
Kalau kita buka lembaran uang seribuan, ada gambar Kapitan Pattimura di depan, pahlawan nasional asal Ambon. Di belakangnya, tergambar dua gunung. Tepatnya dua pulau bergunung. Yang di bagian depan Pulau Maitara, belakangnya Pulau Tidore….
Kisah Pulau di Uang Seribu | Plesiran…
Kalau kita buka lembaran uang seribuan, ada gambar Kapitan Pattimura di depan, pahlawan nasional asal Ambon. Di belakangnya, tergambar dua gunung. Tepatnya dua pulau bergunung. Yang di bagian depan Pulau Maitara, belakangnya Pulau Tidore….
Kisah Pulau di Uang Seribu | Plesiran…
Kalau kita buka lembaran uang seribuan, ada gambar Kapitan Pattimura di depan, pahlawan nasional asal Ambon. Di belakangnya, tergambar dua gunung. Tepatnya dua pulau bergunung. Yang di bagian depan Pulau Maitara, belakangnya Pulau Tidore….
Pemandangan Pulau Maitaranya bener2 keren deh.
Takjub ngelihatnya.
Jadi ingin menyaksikannya secara langsung….
Kapan ya bisa kesana?
coba direncanakan mas
Senin depan Jayapura main lho he he he he
If you are willing to buy real estate, you will have to get the business loans. Moreover, my mother all the time takes a secured loan, which occurs to be the most firm.
wow, enak sekali Ari Hana kerjanya jalan-jalan. itu pekerjaan impianku
tapi aku sempat salah baca judulnya. kirain pulau seribu tak taunya pulau Maitara, sekaligus tentang Ternate dan Tidore yang belum pernah saya pijak… terima kasih!
saya juga belum pernah memijak mas
kalau keliling pulau itu dengan ojeg, kira-kira berapa ongkosnya?
gak sampai 100 $ mas
indah sekali pulaunya.. mengingatkan saya pada teungku di pulau yang ada di aceh besar
mirip ya nduk
Betapa keindahan nusantara di segala pelosok tak tertandingi.
Pingin deh jalan2 kesegala penjuru nusantra seperti Mbk Ary Hana
salam
makanya nabung, jangan jajan saja di pergiat
wah kerjaannya enak sekali mbak ary hana,,keliling nusantara terus..hebat..wah kalo misal ga ada lautnya pemandangan dua gunung itu mirip gunung sindoro sumbing yang ada di kampung saya, hehe
kayak gambar pemandangan waktu SD dulu, selalu dua gunung mengapit matahari ha ha ha ha
wow cantiknya, langit biru dan lautannya jg biru
mempesona ya
keren banget.benar-benar cantik!
sudah lama saya ingin travelling ke Timur tp blm kesampaian juga.
nabung…nabung..trus jalan2 mas